Training of Trainer Bersama Motivator Nasional Perkuat Kompetensi Pengelola BMT NU Jatim

Sumenep – KSPP Syariah BMT Nuansa Umat Jawa Timur terus mendorong peningkatan kapasitas sumber daya manusia melalui kegiatan Training of Trainer (ToT) bersama Motivator Nasional, Dhimas Prast. Kegiatan tersebut berlangsung selama dua hari, Kamis–Jumat (17–18 September 2026), bertempat di Aula Pusdiklat Nuansa, Sumenep.
Pelatihan diikuti oleh jajaran Direksi dan Manager Area BMT NU Jawa Timur. Kegiatan ini menjadi ruang pembelajaran sekaligus penguatan kompetensi dalam komunikasi, kepemimpinan, pengendalian diri, serta kemampuan menyampaikan materi secara efektif kepada pengelola maupun anggota.
Salah satu peserta, Manager Area Bangkalan, Wadiullah, mengaku mendapatkan wawasan baru setelah mengikuti pelatihan tersebut. Menurutnya, salah satu hal penting yang ia pahami adalah pentingnya jam terbang dalam meningkatkan kemampuan seseorang.
“Menambah wawasan terkait pentingnya jam terbang,” ungkap Wadiullah mengenai kesannya mengikuti Training of Trainer.
Ia juga menyebutkan bahwa materi yang diberikan membantunya untuk lebih mampu melakukan pengendalian diri. Dari berbagai sesi yang diikuti, public speaking menjadi salah satu materi yang paling menarik baginya.
“Karena saya pribadi sadar dengan mental yang kurang ketika berbicara in front of people,” jelasnya.
Menurut Wadiullah, pelatihan tersebut juga memberikan perspektif baru dalam menjalankan tugas dan tanggung jawab. Ia merasa memperoleh pengetahuan serta sudut pandang baru yang dapat menjadi bekal dalam mengambil keputusan ke depan.
“Training ini sangat memberikan new knowledge serta angle baru, jadi lebih paham terhadap keputusan ke depan,” ujarnya.
Tidak hanya dari sisi keterampilan komunikasi, Wadiullah merasakan adanya perubahan dalam pola pikir setelah mengikuti pelatihan. Ia mengaku menjadi lebih fleksibel, namun tetap meningkatkan kewaspadaan dan memiliki pandangan yang lebih tajam terhadap produktivitas maupun sisi kemanusiaan.
“Bisa dikatakan lebih membawa aura kedewasaan,” katanya.
Hal senada disampaikan Manager Area Bondowoso, Syaiful Rijal. Ia mengaku sangat senang mengikuti pelatihan tersebut karena materi yang diberikan dinilai inspiratif, dinamis, dan mampu membangkitkan semangat peserta.
Menurutnya, pelatihan tidak hanya berisi teori, tetapi juga dilengkapi dengan simulasi praktis, teknik komunikasi, serta studi kasus yang membuat suasana pembelajaran berlangsung hidup dan interaktif.
“Pelatihannya sangat inspiratif, dinamis, dan membakar semangat. Sesi yang dibawakan tidak hanya teoritis, tetapi sarat dengan simulasi praktis, teknik komunikasi tingkat tinggi, serta studi kasus riil yang membuat suasana pelatihan hidup dan interaktif dari awal hingga akhir,” tutur Syaiful.
Ia menyebut ada sejumlah hal baru yang diperolehnya, di antaranya teknik storytelling corporate. Menurutnya, teknik tersebut mengajarkan perbedaan antara sekadar menyampaikan data dengan membangun hubungan emosional dengan audien.
Selain itu, ia mendapatkan pemahaman mengenai metode experiential learning untuk merancang alur pelatihan agar peserta tidak mudah bosan dan mampu menyerap materi secara aplikatif. Ia juga mempelajari formula psikologis dalam menghadapi resistensi atau keberatan (objection handling) ketika menyampaikan materi di depan publik maupun tim.
Sesi praktik fasilitasi interaktif dan teknik ice-breaking psikologis menjadi sesi yang paling menarik bagi Syaiful. Menurutnya, peserta tidak hanya dilatih menjadi pembicara, tetapi juga seorang fasilitator yang mampu membaca situasi dan dinamika audien.
“Sesi ini sangat menarik karena langsung menantang peserta untuk praktik di tempat. Kita dilatih bukan hanya menjadi pembicara yang baik, tetapi juga seorang fasilitator yang peka terhadap energi ruangan, mampu membaca dinamika audien, dan mengubah suasana kaku menjadi sangat kolaboratif,” ungkapnya.
Lebih jauh, Syaiful menilai Training of Trainer memberikan perspektif baru dalam menjalankan tugas dan tanggung jawab. Ia memahami bahwa setiap pekerjaan harus mengandung nilai, termasuk dalam cara bersikap dan berkomunikasi dengan orang lain.
“Cara bersikap dan berkomunikasi dengan orang, mengerjakan sesuatu dengan sungguh-sungguh meski itu hal yang remeh-temeh, semuanya harus memiliki nilai,” ujarnya.
Perubahan pola pikir juga dirasakan Syaiful setelah mengikuti pelatihan. Jika sebelumnya ia lebih berfokus pada bagaimana materi dapat disampaikan hingga selesai, kini fokusnya bergeser pada bagaimana pesan yang disampaikan benar-benar memberikan dampak dan mampu mendorong perubahan perilaku audien.
“Dari yang tadinya berfokus pada ‘bagaimana materi tersampaikan dengan selesai’, kini bergeser menjadi ‘bagaimana pesan benar-benar berdampak dan mengubah perilaku audien’,” tuturnya.
Ia juga merasa perlu meningkatkan kedewasaan dalam menghadapi berbagai karakter audien, baik pengelola maupun lawan bicara.

Melalui Training of Trainer ini, BMT NU Jawa Timur tidak hanya membekali peserta dengan kemampuan berbicara di depan publik, tetapi juga mendorong terbentuknya kemampuan menjadi fasilitator yang mampu menyampaikan pesan secara bermakna, membangun komunikasi yang efektif, serta memberikan dampak positif dalam menjalankan tugas dan tanggung jawab organisasi.
Kegiatan tersebut diharapkan menjadi bagian dari proses peningkatan kualitas sumber daya manusia BMT NU Jawa Timur, sehingga pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh dapat diterapkan dalam mendampingi, mengembangkan, dan menguatkan kapasitas pengelola di berbagai wilayah.