Di Balik Kesederhanaan, Nenek Aliya Wujudkan Mimpi Umrah Bersama BMT NU Jatim

Admin
03 August 2026
247 x dilihat


Sumenep - Di balik aroma gorengan yang setiap hari dijajakan kepada para pedagang kaki lima, tersimpan sebuah impian besar yang akhirnya berhasil diwujudkan. Itulah kisah inspiratif Nenek Aliya, seorang janda kelahiran tahun 1958 asal Desa Rubaru, Kecamatan Rubaru, yang berhasil mendaftarkan diri sebagai jamaah umrah BMT Nuansa Umat Jawa Timur setelah bertahun-tahun menabung dari hasil berjualan gorengan.


Di usianya yang telah senja, Nenek Aliya menjalani kehidupan sederhana bersama anaknya. Setiap hari, ia membuat aneka gorengan untuk kemudian dititipkan kepada para pedagang kaki lima.Tidak semua dagangannya habis terjual. Namun, kondisi tersebut tidak pernah menyurutkan semangatnya dalam mencari rezeki yang halal.


Dengan penghasilan sekitar Rp80.000 hingga Rp100.000 per hari, Nenek Aliya tetap bersyukur. Dari hasil itulah, ia menyisihkan sekitar Rp30.000 hingga Rp50.000 setiap hari untuk ditabung di BMT NU Cabang Rubaru. Selain menabung, ia juga mengikuti arisan sebagai ikhtiar mengumpulkan biaya demi mewujudkan cita-cita besarnya, yakni menunaikan ibadah umrah ke Tanah Suci.


Keinginan tersebut baru diketahui ketika tim pemasaran BMT NU bersilaturahmi ke rumahnya. Saat itu, diketahui bahwa tabungan yang dimiliki Nenek Aliya masih belum cukup untuk mendaftar umrah. Meski demikian, ia tidak pernah berhenti berusaha dan tetap istiqamah menabung sedikit demi sedikit dari hasil berjualan.


Hingga akhirnya, pada malam Kamis di bulan Juli 2026, Allah SWT membuka jalan. Nenek Aliya mendapatkan giliran menerima dana arisan. Tanpa berpikir panjang, seluruh dana arisan tersebut langsung disetorkan ke BMT NU Cabang Rubaru dan digabungkan dengan tabungan yang selama ini ia kumpulkan.


Alhamdulillah, dengan izin Allah SWT, jumlah dana tersebut akhirnya mencukupi untuk mendaftarkan dirinya sebagai jamaah umrah BMT NU Jawa Timur. Nenek Aliya dijadwalkan berangkat pada 15 Agustus 2026 dalam paket perjalanan umrah selama 16 hari.


Kisah perjuangan Nenek Aliya pun menjadi perbincangan warga sekitar. Banyak tetangga yang merasa kagum karena tidak menyangka seorang penjual gorengan dengan penghasilan sederhana mampu mewujudkan impiannya menginjakkan kaki di Tanah Suci.


Di sisi lain, ada pula yang mempertanyakan keputusannya mendaftar melalui BMT NU karena menurut sebagian orang biaya yang dibayarkan relatif lebih tinggi dibandingkan pilihan lainnya.


Namun, Nenek Aliya tidak menggubris berbagai komentar tersebut. Dengan penuh ketulusan, ia hanya menjawab menggunakan bahasa Madura, "Tak kasta adaftar ka BMT, engkok ikhlas," yang berarti, "Tidak apa-apa saya mendaftar di BMT. Saya ikhlas."



Kalimat sederhana itu menggambarkan keteguhan hati seorang perempuan yang lebih mengutamakan keyakinan dan keikhlasan dibandingkan penilaian orang lain. Baginya, perjalanan menuju Baitullah bukan sekadar persoalan biaya, tetapi tentang ikhtiar, kesabaran, dan keberkahan. Kisah Nenek Aliya menjadi bukti bahwa keterbatasan ekonomi bukanlah penghalang untuk meraih impian. Dengan kerja keras, kedisiplinan dalam menabung, serta keyakinan kepada Allah SWT, cita-cita yang tampak mustahil pun dapat menjadi kenyataan.


Semoga perjuangan Nenek Aliya menjadi inspirasi bagi masyarakat bahwa rezeki bukan semata diukur dari besarnya penghasilan, melainkan dari keberkahan, keistiqamahan dalam berusaha, serta keikhlasan dalam menjalani setiap proses kehidupan.


Bagikan:

Berita Lainnya