Sisihkan Rp100 Ribu Sehari, Penjual Bakso Ini Wujudkan Impian Umrah

Probolinggo – Setiap impian membutuhkan perjuangan. Bagi Sriwahyuningsih, seorang penjual bakso di Desa Besuk, Kecamatan Bantaran, Kabupaten Probolinggo, keinginan untuk menginjakkan kaki di Tanah Suci akhirnya terwujud melalui ketekunan, kesabaran, dan kebiasaan menabung sedikit demi sedikit.
Sriwahyuningsih menjalani kehidupan sederhana bersama sang suami. Sejak awal 2019, ia mulai menekuni usaha berjualan bakso di depan rumah. Kala itu, mendapatkan pelanggan bukan perkara mudah. Jatuh bangun dalam menjalankan usaha telah menjadi bagian dari perjalanan rumah tangganya.
Namun, Sriwahyuningsih dan suaminya tidak mudah menyerah. Dengan ketekunan dan kesabaran, usaha bakso yang mereka jalankan perlahan mulai dikenal. Pelanggan pun semakin banyak hingga dalam beberapa tahun terakhir, Sriwahyuningsih mengaku mampu memperoleh omset sekitar Rp1 juta hingga Rp1,5 juta per hari.
Penghasilan tersebut digunakan untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Di tengah kesibukan menjalankan usaha, Sriwahyuningsih juga menyimpan satu impian besar, yakni berangkat ke Tanah Suci untuk menunaikan ibadah umrah.
Ia kemudian memilih untuk menabung secara rutin melalui BMT NU Cabang Bantaran. Setiap hari, ia berusaha menyisihkan sekitar Rp100 ribu dari hasil usahanya.
Kebiasaan sederhana itu dilakukan secara istiqamah. Sedikit demi sedikit, tabungan yang terkumpul akhirnya mampu mengantarkan Sriwahyuningsih mendaftarkan diri sebagai jamaah umrah pada pertengahan 2026.
Alhamdulillah, dengan izin Allah SWT, impian tersebut semakin dekat menjadi kenyataan. Sriwahyuningsih dijadwalkan berangkat menuju Tanah Suci pada 15 Agustus 2026 melalui paket perjalanan umrah selama 16 hari.
Kabar keberangkatannya pun mendapat perhatian dari lingkungan sekitar. Tetangga dan orang-orang yang mengenalnya turut merasa bahagia sekaligus kagum melihat perjuangan Sriwahyuningsih bersama sang suami dalam membangun usaha sejak 2019 hingga akhirnya mampu mewujudkan impian umrah.
Di tengah kebahagiaan tersebut, ada pula sebagian orang yang mempertanyakan keputusannya memilih menabung dan mempersiapkan keberangkatan melalui BMT NU karena menganggap biaya yang harus dikeluarkan relatif lebih tinggi dibandingkan pilihan lainnya.
Namun, Sriwahyuningsih menyikapinya dengan tenang. Baginya, yang terpenting adalah proses menabung yang membuatnya mampu menjaga komitmen hingga impian tersebut benar-benar terwujud.
“Berkat BMT NU saya bisa menemukan jalan untuk istiqamah menabung, dengan cara dijemput setiap hari oleh petugas,” ungkapnya.
Kisah Sriwahyuningsih menjadi gambaran bahwa impian besar tidak selalu harus dimulai dengan sesuatu yang besar. Dari usaha sederhana berjualan bakso, menyisihkan uang setiap hari, dan dilakukan dengan penuh kesabaran, sebuah cita-cita untuk beribadah ke Tanah Suci akhirnya dapat diwujudkan.
Perjalanan Sriwahyuningsih dan suaminya juga mengajarkan bahwa jatuh bangun dalam berbisnis merupakan hal yang biasa. Kuncinya adalah tekun, sabar, dan tidak mudah menyerah.
Sebab, “Man shabara zhafira” — barang siapa yang bersabar, ia akan beruntung.
Kisah tersebut menjadi pengingat bahwa ketika seseorang terus berusaha dan berjuang dengan sungguh-sungguh, selalu ada jalan yang Allah SWT bukakan. Impian yang dahulu terasa jauh, perlahan dapat menjadi nyata melalui ikhtiar, doa, dan istiqamah.